Perempuan Berdaya untuk Masa Depan yang Lebih Adil Memperingati Hari Perempuan Internasional

Perempuan Berdaya untuk Masa Depan yang Lebih Adil Memperingati Hari Perempuan Internasional

Perempuan Berdaya untuk Masa Depan yang Lebih Adil Memperingati Hari Perempuan Internasional
Mojokerto, 8 Maret 2026.


Pagi itu, seorang dokter perempuan berdiri di ruang prakteknya. Di tangannya tergenggam stetoskop simbol profesi yang ia jalani dengan penuh dedikasi. Di luar ruangan, pasien menunggu. Di rumah, mungkin ada keluarga yang juga menantikan perhatiannya. Namun dengan keteguhan dan profesionalisme, ia menjalankan peran-perannya dengan penuh tanggung jawab.
Kisah seperti ini bukanlah cerita yang langka. Di berbagai sektor kehidupan termasuk kesehatan perempuan memainkan peran penting sebagai tenaga profesional, pemimpin, penggerak komunitas, dan penjaga kesehatan keluarga.

Momentum Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret menjadi pengingat global atas perjuangan panjang perempuan dalam meraih hak, kesetaraan, dan kesempatan yang adil di berbagai bidang kehidupan.

Tahun ini, semangat tersebut tercermin dalam tema global “Rights, Justice, Action   For All Women and Girls”, yang menegaskan bahwa setiap perempuan dan anak perempuan memiliki hak yang sama untuk hidup sehat, aman, dan berkembang secara optimal.

Perjalanan Panjang Menuju Kesetaraan
Sejarah Hari Perempuan Internasional lahir dari perjuangan panjang perempuan di berbagai negara untuk memperoleh hak-hak dasar mulai dari hak bekerja, hak pendidikan, hingga hak politik.
Seiring waktu, berbagai kemajuan telah dicapai. Namun tantangan terhadap kesetaraan gender masih nyata di berbagai belahan dunia.

Menurut United Nations, kekerasan terhadap perempuan masih menjadi salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang paling luas terjadi. Secara global, sekitar 736 juta perempuan atau hampir satu dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual dalam hidupnya.

Di bidang kesehatan pun, kesenjangan masih terjadi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa berbagai kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kekerasan pasangan intim, masih berdampak besar terhadap perempuan di berbagai wilayah dunia.

Data ini menunjukkan bahwa perjuangan untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi perempuan masih membutuhkan perhatian dan aksi nyata dari berbagai pihak.

Potret Perempuan di Indonesia
Di Indonesia sendiri, perkembangan kesetaraan gender menunjukkan kemajuan yang signifikan, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP), capaian pembangunan manusia perempuan di Indonesia telah mencapai sekitar 91,86% dibandingkan laki-laki, menunjukkan bahwa kesenjangan gender semakin mengecil.

Namun pada saat yang sama, kesenjangan masih terlihat dalam beberapa aspek penting:
  • Partisipasi angkatan kerja perempuan sekitar 54%, jauh di bawah partisipasi laki-laki yang mencapai lebih dari 84%.
  • Perempuan hanya menempati sekitar 21,9% kursi parlemen di Indonesia. 
  • Sekitar 26,1% perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan dalam hidupnya, berdasarkan survei nasional pengalaman hidup perempuan. 
  • Meski demikian, optimisme masyarakat terhadap kesetaraan gender juga semakin meningkat. Survei internasional menunjukkan bahwa 70% masyarakat Indonesia percaya organisasi dan pemerintahan akan berjalan lebih baik jika lebih banyak perempuan berada di posisi kepemimpinan. 
Hal ini menjadi sinyal positif bahwa perubahan menuju kesetaraan semakin mendapat dukungan luas.

Perempuan dalam Dunia Kesehatan
Di sektor kesehatan, kontribusi perempuan sangat signifikan. Banyak perempuan yang berperan sebagai dokter, perawat, apoteker, tenaga kesehatan masyarakat, hingga pemimpin organisasi kesehatan.

Kehadiran perempuan dalam sektor ini bukan hanya memberikan layanan medis, tetapi juga menghadirkan nilai empati, kepedulian, serta pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan.

Perempuan tidak hanya menjadi tenaga profesional, tetapi juga seringkali menjadi pengambil keputusan kesehatan di dalam keluarga, mulai dari perawatan anak hingga kesehatan lansia.

Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan dalam bidang kesehatan memiliki dampak luas terhadap kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Hak, Keadilan, dan Aksi
Hari Perempuan Internasional bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang refleksi dan aksi nyata.

Tema “Hak, Keadilan, dan Aksi” mengingatkan bahwa kesetaraan gender tidak hanya memerlukan kebijakan, tetapi juga komitmen kolektif dari berbagai pihak pemerintah, organisasi, komunitas, dan individu.

Ketika perempuan mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan kepemimpinan, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh perempuan itu sendiri, tetapi juga oleh keluarga, masyarakat, dan bangsa secara keseluruhan.

Karena pada akhirnya, perempuan yang berdaya akan melahirkan generasi yang lebih sehat, masyarakat yang lebih kuat, dan masa depan yang lebih adil bagi semua.
Selamat Hari Perempuan Internasional.

Mari bersama menghadirkan dunia yang lebih setara melalui Hak, Keadilan, dan Aksi untuk semua perempuan dan anak perempuan.

Referensi
United Nations – International Women’s Day
World Health Organization (WHO) – International Women’s Day Statement 2026
UNDP Indonesia – Gender Equality and Social Inclusion Data
UN Women Data Hub – Indonesia Gender Statistics
Badan Pusat Statistik (BPS) – Gender Development Indicators
Ipsos Global Survey on Gender Equality